Tampilkan postingan dengan label studi kasus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label studi kasus. Tampilkan semua postingan

17 Desember 2011

Hutan Wehea Terancam

Hutan Wehea seluas 38.000 hektar di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, yang menjadi habitat bagi orangutan dan menyimpan kekayaan flora fauna terancam keselamatannya. Alasannya, kawasan itu masih berstatus hutan produksi sehingga berpotensi dirambah.

"Jika statusnya belum juga diubah menjadi hutan lindung makan terbuka kemungkinan terbitnya izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu (IUPHK) di kawasan tersebut", kata Kepala Dinas Kehutanan Kutai Timur Ordiansyah di Sangatta. Usulan perubahan status hutan disampaikan kepada Kementrian Kehutanan sejak 2007, tetapi belum terwujud.

Hutan Wehea memiliki peran penting. Selain menjadi habitat orangutan, juga berisi ratusan flora dan fauna didalamnya, serta berfungsi sebagai daerah tangkapan air bagi Sungai Wahau.

Saat menyusuri hutan Wehea, hutan masih asri dan terhampar hijau. Sarang orangutan dan jejak macan dahan pun dengan mudah ditemui di dalam hutan. Untuk itu, menurut Ordiansyah sudah selayaknya hutan ini dijadikan hutan lindung sehingga keberadaannya tidak terganggu. Selain dari Pemkab Kutai Timur, desakan penetapan Wehea sebagai hutan lindung juga mucul dari masyarakat adat Wehea dan pihak Universitas Mulawarman.

Bupati Kutai Timur (saat itu Awang Faroek Ishak) telah mengirimkan surat ke Kementrian Kehutanan pada 5 Juli 2007, yang berisi usulan penetapan Wehea sebagai hutan lindung. Usulan itu tidak juga direspon sehingga Bupati Isran Noor yang menjabat saat ini mengusulkan kembali perubahan status. "Kita belum pernah mendapat jawaban apakah usulan itu disetujui atau sebagian saja yang disetujui. Kita belum tahu", kata Ordiansyah.

Selama ini, Wehea dikelola masyarakat adat Dayak Wehea di Desa Nehas Liah Bing. Sejak 2004, mereka menetapkan hukum adat untuk melindungi hutan itu dari ancaman perambahan dan perburuan satwa. "Hutan ini jadi lumbung kehidupan bagi kami. Jika hutan habis maka desa ini terancam", kata Kepala Adat Nehas Liah Bing, Ledjie Taq. Setelah hukum adat, dibentuk badan pengelola hutan Wehea dan penjaga hutan.

03 Desember 2011

Hapsoro, Guru "Pemulung" dari Sungai Ciliwung

Hapsoro, gambar diambil dari sini

Sebagai aktivis lingkungan, Hapsoro banyak mengadvokasi persoalan pembalakan liar di Pulau Kalimantan. Ia masuk-keluar hutan dan berkampanye demi penyelamatan hutan. Namun, ketika melepas semua itu dan hanya memaknai diri sebagai orang Bogor, Hapsoro memilih menjadi "pemulung" di Sungai Ciliwung.

Bukan sembarang "pemulung", sejak 2009 Hapsoro bersama rekan-rekannya menggulirkan Komunitas Peduli Ciliwung Bogor. Rutin sekali dalam sepekan mereka memulung sampah di tepian Sungai Ciliwung. Mereka punya 11 titik favorit yang terbanyak sampahnya di sepenggal Sungai Ciliwung di Kota Bogor, mulai Katulampa hingga Cilebut.

Pesertanya masyarakat awam, dari karyawan kantor, guru, hingga pelajar. Mereka menyebarkan informasi titik memulung melalui pesan singkat berantai yang dimulai oleh Hapsoro. Maklum komunitas ini tida mengikat keanggotaan, siapa saja boleh datang dan pergi. 

Kegiatan itu murni swadaya Hapsoro dan rekan-rekan tanpa dukungan lembaga tertentu. Hapsoro yang kerap "berjuang" untuk pelestarian lingkungan di luar Bogor merasa perlu berbuat sesuatu bagi Bogor, tempat tinggalnya. Persoalan lingkungan yang menonjol di Bogor adalah Sungai Ciliwung yang kerap dijadikan "tempat sampah". "Sekali memulung, sampah yang terkumpul bisa sampai satu mobil bak terbuka. Awalnya kami urunan menyewa mobil Rp100.000, tetapi belakangan Pemerintah Kota Bogor membantu menyediakan mobil sampah. Mungkin mereka malu", tuturnya.

Setiap Sabtu
Acara memulung bersama itu dilaksanakan setiap Sabtu. Bergantian dengan dua kegiatan lain, yakni menyusuri tepi Ciliwung dan memulung benih pohon beringin serta pekan berikutnya menanam benih yang dikumpulkan dari hutan sekitar Kecamatan Dramaga di tepian Sungai Ciliwung.

Harapannya, pohon beringin yang berakar kuat itu bisa membantu menyerap air hujan agar tidak erosi, sekaligus memperkuat daerah sempadan sungai agar tak mudah longsor. Selama dua tahun terakhir sudah ratusan pohon mereka tanam di bantaran Ciliwung.

Sekali dalam setahun mereka menggelar lomba memulung per kelurahan di sepanjang bantaran Sungai Ciliwung dan tahun ini akan menginjak tahun ketiga. Masyarakat berlomba berupaya menjadi yang terbanyak mengumpulkan sampah rumah tangga di Sungai Ciliwung. Juara pertama loba mendapat hadiah Rp5 juta. Uang "pembinaan" bagi pemenang merupakan sisa hasil penjualan sampah plastik dari kegiatan memulung rutin setiap pekan dan donasi perorangan.

Hampir tiga tahun memulung, tentu ada suka dan duka yang dirasakan Hapsoro dan teman-teman. Hal tersering yang mereka alami adalah kaki luka kena pecahan kaca atau paku saat memburu sampah di Ciliwung. Yang membuat mereka sampai mengelus dada, ketika sedang memungut sampah, tiba-tiba orang yang tinggal di bantaran sungai tanpa melihat kegiatan itu dengan entengnya membuang sampah ke sungai. Tak jarang sampah tersebut bahkan mengenai kepala mereka. Duh...

Minus kepedulian
Jumlah peserta atau sukarelawan yang terlibat dalam kegiatan memulung itu tak tentu. Pernah hanya bisa dihitung dengan jari, kadang  belasan, pernah pula sampai 80 orang. Dia mengaku sengaja mengajak mereka memulung sampah agar menjadi lebih peduli terhadap Ciliwung. 

Ciliwung kerap menjadi persoalan saat banjir melanda Jakarta. Daerah hulu Bogor akan dipersalahkan oleh orang-orang di hilir, seperti Jakarta. Kerusakan Ciliwung sudah terbilang parah, dengan sampah di mana-mana, airnya keruh,, terutama di daerah tengah dan hilir sungai.

Masyarakat membuang sampah karena masih merasa Ciliwung sebagai tempat sampah yang efisien. Orang tinggal melemparnya, lalu sampah hanyut, untuk kemudian menumpuk atau tersangkut di daerah lain. Padahal masyarakat juga memerlukan Ciliwung. Mereka memanfaatkan air dari Sungai Ciliwung untuk kebutuhan sehari-hari. Pada masa lalu, Ciliwung dekat dengan kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Leonard Blussem sejarahwan Belanda, dalam buku Persekutuan Aneh mencatat, Batavia (Jakarta) pernah dikenal sebagai kota yang indah dan bersih pada 100 tahun pertama usianya. Namun sejarahwan mencatat pula, akibat erupsi Gunung Salak, sanitasi kota sama sekali tidak baik karena aliran Sungai Ciliwung tersumbat dan air tercemar. Kini, bukan erupsi Gunung Salak yang menyumbat dan mengotori Sungai Ciliwung, melainkan orang-orang yang tinggal di sekitar sungai itu.

"Kegiatan memulung ini juga untuk kembali mengingatkan mereka agar peduli terhadap Ciliwung,. Kami sebetulnya lebih berharap muncul kesadaran masyarakat", katanya. Adakah hasilnya? Bagi Hapsoro, apa yang dia dan rekan-rekannya lakukan hanya setitik upaya untuk menjaga Ciliwung. Dimulai dari membangkitkan kepedulian masyarakat terhadap Ciliwung.

Setidaknya, menurut Hapsoro, kini orang-orang mulai memiliki rasa malu untuk membuang sampah sembarangan di sungai ketika mereka "bekerja" mengurangi sampah. Untuk mendorong agar kegiatan ini menjadi gerakan moral warga, seperti harapan Hapsoro, masih jauh dari kenyataan. Namun, bukankah untuk memulai sebuah perjalanan perlu satu langkah kecil? Bagi Hapsoro dan teman-teman, langah kecil itu dimaknai dengan memulung sampah di Sungai Cilwung...


oleh: FX PUNIMAN. Wartawam, tinggal di Bogor.
Artikel diambil dari: KOMPAS.

02 Juli 2011

Penggundulan tak Terkendali, Habitat Rangkok Terancam Punah


REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR
Habitat Rangkong Indonesia terancam hilang akibat eksploitasi hutan yang membuat sumber pakannya menjadi berkurang.
"Kegiatan penggundulan hutan tanpa tebang pilih membuat sumber pakan Rangkong banyak yang rusak. Kondisi ini membuat rangkong semakin terjepit dan mulai kehilangan habitatnya," kata Dwi Mulyawati Bird Conservation Officer Burung Indonesia dalam siaran pers yang dikirim melalui pesan elektroniknya, Sabtu.
Dwi mengatakan, Rangkong merupakan hidupan liar yang sangat berjasa pada regenerasi hutan. Tanpa Rangkong, diperkirakan hutan akan segera hancur dan potensi yang terkandung didalamnya ikut tergusur.
Banyak jenis pohon yang kelanjutan hidupnya bergantung pada hewan pemakan buah dalam penyebaran bijinya. "Menurut para peneliti Rangkong dijuluki sebagai petani hutan karena kehebatannya menebar biji," kata Dwi.
Lebih lanjut, Dwi menjelaskan seekor Rangkong dapat terbang dalam radius 100 km persegi. Artinya, burung yang termasuk dalam keluarga Bucerotidae ini dapat menebar biji hingga 100 km jauhnya.
Penelitian yang dilakukan di kawasan hutan produksi menunjukkan, sumber pakan Rangkong menyusut hingga 56 persen karena berkuranganya pohon pakan sebanyak 76 persen.
Berdasarkan data International Union for Conservation of Nature (IUCN), dari 13 jenis Rangkong yang ada di Indonesia, Julang Sumba (Aceros everetti) merupakan jenis terancam punah yang masuk pada kategori rentan (Vulnerable/VU).
Di Indonesia, Rangkong disebut juga dengan Julang, Enggang, atau Kangkareng "Jenis yang hanya dijumpa di Pulau Sumba ini diperkirakan hanya tersisa kurang dari 4.000 ekor dengan kepadatan rata-rata enam ekor per km persegi," ujar Dwi.
Dwi menambahkan, Rangkong merupakan jenis burung yang melakukan kegiatan tersebutt. Tanpa peran Rangkong, bisa dipastikan jenis pohon tertentu akan lenyap karena induk pohon yang menua akan mati tanpa pengganti.
Buah Ara merupakan salah satu pakan favorit Rangkong yang tersedia hampir sepanjang tahun.
Diperkirakan, ada 200 jenis pohon Ara yang menjadi pakan utama Rangkong. Dan bila dibanding burung lainnya, Rangkong dianggap paling mampu dalam menebarkan biji ara, karena daya jelajahnya yang tinggi.
"Menurut Margaret F. Kinnaird dan Timothy G. O`Brien, peneliti Rangkong dan hutan tropis, terdapat korelasi erat antara Rangkong dengan hutan yang sehat," kata Dwi.
Burung Rangkong termasuk dalam Famili Bucerotidae, kelompok burung berukuran besar yang mudah dikenali, terutama dari cula (casque) pada pangkal paruhnya. Di seluruh dunia terdapat 55 jenis yang tersebar di kawasan tropis Asia dan Afrika.
Tercatat ada 13 jenis Rangkong yang ada di Indonesia. Sembilan jenis di Sumatera: Enggang Llihingan, Enggang Jambul, Julang Jambul-Hitam, Julang Emas, Kangkareng hitam, Kangkareng Perut-Putih, Rangkong Badak, Rangkong Gading, dan Rangkong Papan. Empat jenis lagi berada di Sumba (Julang Sumba), Sulawesi (Julang dan Kangkareng Sulawesi), serta Papua (Julang Papua). Kalimantan memiliki jenis Rangkong yang sama seperti Sumatera, kecuali Rangkong Papan.
Burung Indonesia adalah organisasi nirlaba dengan nama lengkap Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia (Birdlife Indonesia Association) yang menjalin kemitraan dengan BirdLife International, yang berkedudukan di Inggris.
-

23 Februari 2011

80% Global Warming disebabkan Hewan Ternak

Sebagaimana yang telah disampaikan sebelumnya, pada November 2006 PBB telah merilis laporan mengejutkan yang berhasil membuka mata dunia bahwa ternyata 18% dari emisi gas rumah kaca datang dari aktifitas pemeliharaan ayam, sapi, babi, dan hewan-hewan ternak lainnya. Di sisi lain, mobil, sepeda motor, truk-truk besar, pesawat terbang, dan semua sarana transportasi lainnya yang bisa Anda sebutkan hanya menyumbang 13% emisi gas rumah kaca. Bayangkanlah kenyataan ini: Ternyata penghasil utama emisi gas berbahaya yang mengancam kehidupan planet kita saat ini bukanlah mobil, sepeda motor, ataupun truk dan bus dengan polusinya yang menjengkelkan Anda. Tetapi emisi berbahaya itu datang dari sesuatu yang nampak sederhana, tidak berdaya, dan nampak lezat di meja makan Anda. Yaitu daging!

Mungkin bagi Anda hal ini sangat berlebihan. Tetapi ketahuilah bahwa laporan ini bukan dirilis oleh sekelompok ilmuwan paranoid yang tidak kompeten, ataupun peneliti dari tingkat universitas lokal. Laporan ini dirilis langsung oleh PBB melalui FAO (Food and Agriculture Organization—Organisasi Pangan dan Pertanian). Tentu agak sulit membayangkan bagaimana mungkin seekor anak ayam yang terlahir dari telurnya yang begitu rapuh, yang terlihat begitu kecil dibandingkan luasnya planet ini, bisa memberikan pengaruh yang begitu besar pada perubahan iklim. Jawabannya adalah pada jumlah mereka mereka yang luar biasa banyak. Amerika Serikat saja menjagal tidak kurang dari 10 miliar hewan darat setiap tahunnya (tidak termasuk ikan dan hewan laut lainnya). Bayangkan berapa banyak jumlahnya bila digabungkan dengan seluruh dunia.

1. Pemeliharaan hewan ternak memerlukan energi listrik untuk lampu-lampu dan peralatan pendukung peternakan, mulai dari penghangat ruangan, mesin pemotong, dll. Salah satu inefisiensi listrik terbesar adalah dari mesin-mesin pendingin untuk penyimpanan daging. Baik yang ada di peternakan maupun yang ada di titik-titik perhentian (distributor, pengecer, rumah makan, pasar, dll) sebelum daging tersebut tiba di rumah/piring makan Anda. Anda tentu tahu bahwa mesin-mesin pendingin adalah peralatan elektronik yang sangat boros listrik/energi.

2. Transportasi yang digunakan, baik untuk mengangkut ternak, makanan ternak, sampai dengan elemen pendukung peternakan lainnya (obat-obatan dll) menghasilkan emisi karbon yang signifikan.

3. Peternakan menyedot begitu banyak sumber daya pendukung lainnya, mulai dari pakan ternak hingga obat-obatan dan hormon untuk mempercepat pertumbuhan. Mungkin sepintas terlihat seperti pendukung pertumbuhan ekonomi. Tapi dapatkah Anda membayangkan berapa banyak lagi emisi yang dihasilkan tiap industri pendukung tersebut? Perekonomian yang maju tidak ada lagi artinya kalau planet kita hancur! Masih banyak sektor-sektor industri ramah lingkungan yang bisa dikembangkan di dunia ini. Jadi mengapa harus mengembangkan sektor yang membahayakan kehidupan kita semua?



4. Peternakan membutuhkan lahan yang tidak sedikit. Demi pembukaan lahan peternakan, begitu banyak hutan hujan yang dikorbankan. Hal ini masih diperparah lagi dengan banyaknya hutan yang juga dirusak untuk menanam pakan ternak tersebut (gandum, rumput, dll). Padahal akan jauh lebih efisien bila tanaman tersebut diberikan langsung kepada manusia. Peternakan sapi saja telah menyedot makanan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan kalori 8,7 miliar orang! Lebih dari jumlah populasi manusia di dunia. KELAPARAN DUNIA TIDAK AKAN TERJADI JIKA SEMUA ORANG BERVEGETARIAN. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa seorang vegetarian menyelamatkan hingga setengah hektar pepohonan setiap tahunnya! Hutan hujan tropis mengalami penggundulan besar-besaran untuk menyediakan lahan peternakan. Lima puluh lima kaki persegi hutan tropis dihancurkan hanya untuk menghasilkan satu ons burger! Perusakan hutan sama dengan memperparah efek pemanasan global karena CO2 yang tersimpan dalam tanaman akan terlepaskan ke atmosfer bersamaan dengan matinya tanaman tersebut.

5. Hewan-hewan ternak seperti sapi adalah polutan metana yang signifikan. Sapi secara alamiah akan melepaskan metana dari dalam perutnya selama proses mencerna makanan (kita mengenalinya sebagai bersendawa—glegekan kata orang jawa). Metana adalah gas dengan emisi rumah kaca yang 23 kali lebih buruk dari CO2. Dan miliaran hewan-hewan ternak di seluruh dunia setiap harinya melakukan proses ini yang pada akhirnya menjadi polutan gas rumah kaca yang signifikan. Tidak kurang dari 100 milliar ton metana dihasilkan sektor peternakan setiap tahunnya!

6. Limbah berupa kotoran ternak mengandung senyawa NO (Nitrogen Oksida) yang notabene 300 kali lebih berbahaya dibandingkan CO2. Pertanyaannya adalah: Memangnya seberapa banyak kotoran ternak yang ada? Di Amerika Serikat saja, hewan ternak menghasilkan tidak kurang dari 39,5 ton kotoran per detik! Bayangkan berapa banyak jumlah tersebut di seluruh dunia! Jumlah yang luar biasa besar itu membuat sebagian besar kotoran tidak dapat di proses lebih lanjut menjadi pupuk atau hal-hal berguna lainnya, akhirnya yang dilakukan oleh pelaku industri peternakan modern adalah membuangnya ke sungai atau ke tempat-tempat lain yang akhirnya meracuni tanah dan sumber-sumber air. Kontribusi gas NO dari sektor peternakan sangatlah signifikan!

Sumber: Kaskus

-

24 Oktober 2010

Plastik, berbahayakah?

It takes up to 1,000 years for plastic to degrade.
Less than 1% of all plastic bags get recycled.

Plastic bags are known to choke drainage system and clog rivers causing flood.
It is estimated 500 billion plastic bags are sold worldwide every year.
9-15% of waste in landfills are plastics.
More than a million birds and 100,000 marine mammals and sea turtles die every year from eating or getting entangled in plastic.
There are eastimated 46,000 pieces of palstic litter floating in every square mile of ocean.
It its estimated arround 7 millions tons of plastic litter on Pacific Ocean.

Plastik. Semua orang membutuhkan plastik. Keistimewaan plastik adalah proses produksinya memerlukan energi yang jauh lebuh hemat dibandingkan kantong kertas. Keistimweaan yang kedua adalah plastik memiliki bobot yang ringan, praktis, dan tidak mudah pecah. Dengan demikian, yang dilakukan saat ini adalah tidak memusuhi plastik, tetapi menemukan solusi mempercepat proses penguraian plastik, yang awalnya membutuhkan ratusan tahun untuk mengurai, menjadi lebih singkat hanya dalam beberapa tahun saja.

Jika kita melirik ke belakang, kita akan tahu plastik berasal dari jasad renik (mikroorganisme) dari tumbuhan laut yang mati dan mengendap di dasar bumi. Dan pelapukan tersebut akan bertransformasi jasad-jasad renik tersebut menjadi minyak bumi yang menjadi bahan dasar plastik. Banyak informasi dan mitos keliru yang saat ini diketahui masyarakat. Steven Hetges, pakar kimia plastik dari Amerika menyatakan bahwa plastik sesungguhnya tidak membahayakan. Kesimpulan itu diperoleh melalui sebuah penelitian yang dilakukan secara hati-hati oleh pemerintah maupun badan-badan peneliti di dunia.

Di Samudra Pasifik sendiri, kedalaman sampah plastik hampir 150 meter. Kira-kira ada 35 ngeara di sekitar Samudra Pasifik yang mengakhiri sampahnya di Samudra Pasifik. Dan sekitar 90% isi di Samudra Pasifik adalah sampah plastik.

An Inconvenient Truth.
Manusia membutuhkan plastik, tentunya. Sebenarnya sudah lebih dari 50 tahun yang lalu, mereka sudah sadar bahwa plastik akan menjadi musuh publik. Di Amerika sendiri sejak tahun 80-an sudah menerapkan disiplin 3R. Yaitu Reuse, Reduce, dan Recycle. Tapi nyatanya, tidak lebih dari 1 % yang berhasil di recycle. Padahal sebenarnya recycle itu bagus. Itupun negara maju. Bagaimana dengan Indonesia?

Kini 5 tahun terkahir, negara mencoba dengan 3R dengan target masyarakat memakai ulang tas tersebut minima; 20 kali. Tapi faktanya, 60% masyarakat tidak memakai lebih dari 1 kali, dan 40% tidak memakai sampai 20 kali. Poinnya, 3R itu tidak solve problem.

Kalau plastik adalah organik, mengapa beracun?
Plastik sesungguhnya berasal dari bahan organik. Lantas kenapa orang pikir itu racun? Itu disebabkan oleh recycling, yang memasukkan kontaminasi. Warna hitam itu kemungkinan benar hasil dari recycle, dan itu sangat beracun karena kontaminasi dari hasil recycle itu sendiri. Seperti contoh lain, botol bayi. Warna asli dari botol tersebut agak burem, dan siapa sih yang mau pakai botol kusam? Maka dari itu dimasukkanlah zat aditif agar botol terlihat bersih. Dan zat aditif itu dapat menghambat pertumbuhan bayi. Buat ibu-ibu, hati-hati dan lebih seleksi lagi dalam memilih botol bayi. Sekali lagi, plastik itu organik. Zat aditiflah yang membuatnya berbahaya.

Is there any solution?
Kini solusi tersebut telah terealisasikan dengan munculnya OXIUM, yakni aditif yang dapat mempercepat terjadinya proses degredasi plastik dalam waktu kurang dari 2 tahun melalui mekanisme oksidasi, thermal, dan fotodegradasi. Pusat-pusat pertokoan yang telah menggunakan OXIUM sebagai shopping bag antara lain Carrefour, Indomaret, Alfamart, Alfa Express, Alfa Midi, SuperIndo, Hero, Giant, Premium Factory Outlet, Guardian, Century, Kemchicks, Zara, Time Zone, Gramedia, dan beberapa lainnya.

OXIUM sendiri telah mendapat Green Label dari INSWA (Indonesia Solid Waste Association), lembaga yang concer dengan masalah sampah dan lingkungan yang berish. Jadi, jangan musuhi plastik, tapi kita tetap bisa bersahabat dengan plastik, asalkan plastik tersebut ramah lingmkungan dan dapat terurai dengan cepat. Dan berkontribusi dalam menciptakan kehidupan yang baik.


OXIUM 100% Degradable Plastic.

16 Oktober 2010. Tirtane Cafe, FX.

22 April 2010

Beginilah Modus Mafia Kehutanan

Seperti mafia hukum, mafia kehutanan juga memiliki modus tersendiri. Namun dari banyak modus, ada dua modus yang paling sering dipakai.
"Menyuap pejabat daerah untuk menerbitkan izin dan alih fungsi hutan," kata peneliti Indonesian Corruption Watch (ICW) Febri Diansyah kepada detikcom, Kamis (22/4/2010).
Febri mengatakan, penyuapan itu biasa dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang kayu. Perusahaan-perusahaan memberi pejabat daerah sejumlah uang agar mau menerbitkan izin hutan tanaman industri (HTI) di areal terlarang.
"Areal itu sebenarnya tidak boleh untuk HTI, tapi karena disuap, akhirnya pemerintah daerah mengeluarkan izinnya. Kasus semacam itu sudah ada yang ditangani KPK, hari ini kan ada salah satu bupati di Riau yang diperiksa KPK," kata Febri.
Selain itu, perusahaan-perusahaan itu juga meminta izin untuk alih fungsi hutan. Hutan tersebut akan ditanami pohon kelapa sawit. Namun hutan yang dipilih adalah hutan yang masih produktif.
"Jadi setelah izinnya keluar, mereka tebang kayunya, diambil. Tapi sawitnya nggak ditanam. Jadi itu modus untuk ambil kayu," kata Febri.
Praktek-praktek itu, kata Febri, telah merugikan negara hingga triliunan rupiah. Untuk kasus 14 perusahaan di Riau yang akan dilaporkan ICW ke Satgas Pemberantasan Mafia Hukum saja, negara telah merugi hingga Rp 2,8 triliun


Sumber Detik News


-

10 November 2008

Stop Global Warming! Help Us… Help You!

DO YOU KNOW THAT …..
  1. Ngga menancapkan colokan listrik walopun ketika alat elektronik itu dimatikan = menghemat 40-50% biaya listrik yang harus anda bayarkan tiap bulannya.. Dan berarti pula, mengurangi panas yang timbul dari alat elektronik yang merembet ke pemanasan global.
  2. Kantong plastik butuh waktu 1000 tahun untuk terurai di TPA(tempat pembuangan akhir). Sekitar 300 juta buah kantong plastik dibuang tiap tahunnya di Indonesia. Belum lagi yang dibuang di sungai belakang rumah dan tempat2 yang tidak semestinya.
  3. Dan 10kg kertas koran yang siap di jual loakan itu membutuhkan 1 pohon yang butuh waktu 10 tahun untuk menjadi besar. Bayangkan yang terjadi dengan ilegal logging. How many trees has been cutdown for you? Imagine how they make the world hotter?
  4. Ketika kamu membeli 1 liter air mineral di supermarket = beli 5 liter air. Tanya kenapa? Karena di pabrik, untuk mendinginkan botol plastik panas yang baru dicetak, membutuhkan 5 liter air. 
  5. Kode botol apa yang aman digunakan sebagai botol air? Lihat tanda dibawah botol, cari nomor 2,3 atau 4. Selain nomor2 itu they're not safe, karena sama aja kamu makan plastik!!!!
  6. Tisue yang uda di pakai itu ngga bisa di recycle. Begitu juga karton2 yang bekas kena minyak, makanan, kue, minuman. They're only a waste. Yang mau ngga mau tanahlah yang harus merecyclePerkiraan orang memakai tisue 6 biji sehari. 2.200 biji setaun. Berarti kira2 44 MILIAR biji seluruh Indonesia setahun. Kalau kita menghemat 1 lembar saja tiap hari, berarti kita mengurangi sampah kertas sebanyak 7 MILIIAR biji setahun. HEBAT KAN?
  7. Be Green on ATM? Kalau di BCA kan ada yang ambil duit ngga pake receipt, atau be smart dong, Transfer lewat internet banking atau mobile banking
  8. MILIAR kali transaksi di ATM yang mengeluarkan kertas receipt tiap taun adalah salah satu sumber sampah terbesar di dunia.
Kalau selama setahun orang transaksi ngga pake kertas receipt,
itu akan menghemat satu roll besar kertas yang bisa buat melingkari
garis equator sampe 15 kali.
6. Minimal punya 2 macam tempat sampah dirumah, membantu mengurangi polusi air, udara dan tanah.
Pisahkan sampah basah (sisa makanan dan masakan, daun, minuman) dan sampah kering ( botol, plastik, kertas, kaca)
Lebih baik lagi untuk memisahkan sampah menurut 4 kelas :
  • Plastik ( pembungkus makanan, kantong kresek, kantong belanjaan)
  • Rumah tangga ( tulang ayam, sisa capcay, makanan basi)
  • Kertas (Pembungkus gorengan, popok bayi, tisue yang sudah dipakai)
  • Buku bekas catatan, kertas2 tagihan, koran, kertas iklan… disendirikan untuk dijual
  • Logam (kaleng susu, kaleng makanan) dan kaca.
Hanya butuh waktu 2 bulan untuk menjadikan sampah rumah tangga menjadi kompos yang bisa dipakai lagi untuk pupuk tanaman…

       9. Polar Bear / Beruang kutub ngga bisa berenang… tapi karena global warming di Kutub Utara, mereka harus berenang 30km untuk mencari es tempat berteduh.

Watch DISCOVERY CHANNEL : PLANET EARTH. Pasti nangis deh ngeliat perjuangan seekor beruang kutub yang akhirnya mati karena kelelahan mencari daratan.
Is that the world you will leave for your children?
taken from : http://totalfeedback.com/ (this post is old and rare article)

dikirim oleh : Berly
-

03 Mei 2008

Tiga juta hektar hutan Riau hilang !!!

Sekitar tiga juta hektar luas hutan alam Riau tergerus pada tahun 1984-2005. Penurunan luas hutan alam mencapai 840.000 hektar, pada tahun 1999-2005. Rata-rata per tahun 150.000 hektar hutan alam Riau hilang. Kini kondisi lingkungan alam di Riau menunjukkan kehancuran ekstrim.

Data dari Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari) menunjukkan hal tersebut, namun sepanjang tahun 2005 tidak ada perbaikan perilaku masyarakat dan pemerintah daerah untuk penyelamatan hutan. Kini hutan alam hanya tersisa 650.000 hektar (ha).

"Sesuai ketentuan UU Kehutanan No 41 Tahun 1999, tutupan hutan harus seluas 30 persen total daratan, dibagi-bagi untuk keperluan lain seperti industri dan pemukiman. Diakui, sekarang yang benar-benar hutan alam kurang dari 700.000 hektar", Kata Kepala Dinas Kehutanan Riau, Burhanuddin beberapa waktu lalu.

Eksploitasi terbesar dilakukan di sektor alih fungsi hutan alam menjadi areal industri.

Hutan alam Riau dari analisis Jikalahari, 789.703 hektar hutan alam di tahun 2004 sudah dikuasai dua grup perusahaan bubur kertas, yaitu Asia Pasific Resources International Ltd (APRIL) induk PT Riau Andalan Pulp and Papper (RAPP) dan Asia Pulp and Papper (APP) induk PT Indah Kiat Pulp and Papper (IKPP).

Seluas 390.471 hektar lainnya dikuasai perusahaan perkebunan, terutama komoditas kelapa sawit. Adapun 834.249 hektar hutan alam dikuasai pemegang hak pengusahaan hutan (HPH). Aktivitas penebangan liar menyeruak di tengah-tengah semua jenis usaha eksploitasi hutan alam tersebut.

Perubahan dari hutan dalam heterogen menjadi HTI dan perkebunan homogen memengaruhi keseimbangan lingkungan. Krisis air akut mulai dirasakan di Riau dan Sumatra dan diperkirakan memuncak pada tahun 2020.

Sementara itu, 16.200 ha (85 persen) dari 18.000 ha lahan reboisasi melalui Gerakan Rehabilitasi Lahan (Gerhan) 2004 Sumatra Selatan diperkirakan rusak karena tidak terpelihara.

Tidak turunnya anggaran pemeliharaan 2005 membuat perawatan tak berjalan. Menurut Kepala Dinas Kehutanan Sumsel Dodi Priyadi, Senin di Palembang, tanaman itu butuh penyiraman dan pemupukan untuk beradaptasi dengan lahan kritis tampat penanaman.



sumber : buku biologi kelas 10, Litbang Kompas diolah dari Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau.

11 Februari 2008

Penebangan liar di Nusakambangan marak

Penebangan liar di Pulau Nusa Kambangan, Cilacap, Jawa Tengah, makin marak. Akibatnya, pohon-pohon langka di pulau itu semakin terancam. Pohon-pohon besar di hutan Nusakambangan kini semakin sulit ditemukan. Kayu langka, seperti pawlar sulit ditemukan. Padahal jenis kayu itu hanya tumbuh di Nusakambangan.

Menurut Waris, warga disitu, kerusakan hutan di Nusakambangan makin parah sejak 3-4 tahun terakhir. Awalnya yang ditebang adalah pohon-pohon kecil untuk kayu bakar. Namun belakangan yang ditebang adalah pohon-pohon besar. Waris sendiri adalah mantan narapidana kasus pencurian kayu di Nusakambangan. Ia baru keluar penjara Desember 2005.

Waris mengaku telah mencuri karena diperintah cukong kayu yang tinggal di Kampung Laut dengan bayaran Rp 25.000. Bersama lima temannya, ia menebang pohon di dekat Lembaga Permasyarakatan Permisan, Nusakambangan, dengan menggunakan gergaji mesin.

"Pencurian seperti ini sudah sering terjadi. Bukan saya saja, tetapi banyak. Ada yang sudah ditangkap, tapi lebih banyak yang selamat. Mereka aman saja mencuri kayu pakai gergaji mesin dekat LP Permisan karena perugas LP sudah dapat bagian (ckckck... jahanam!)" Kata Waris.

Jenis yang paling sering dicuri adalah kayu pawlar. Kayu ini bergetah,tapi setelah dikeringkan kualitasnya setara dengan kayu dari Kalimantan. Kayu pawlar harganya mencapai Rp 3 juta per meter kubik.

Jumono, nelayan yang juga tinggal di desa setempat, menuturkan, "Saya heran kenapa cukong-cukong mencuri kayu di Nusakambangan. Yang dipenjara hanya buruh-buruh angkut kayu dan nelayan yang ikut menebang"

Penebangan liar di Nusakambangan perlu ditangani serius oleh penegak hukum, baik kepolisian maupun otoritas di Nusakambangan itu sendiri.
Sayangi pohon, Peduli lah dengan lingkungan.


sumber : buku biologi dengan perubahan, oleh melinda